Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Bersambung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Desember 2014

Menuju Pintu (Bagian 3)

Angrek Nomor 8

"Oh, rupanya kau"

"Maaf terlambat, harusnya aku sesegera mungkin untuk kemari"

"Tak masalah"

"Lantas bagaimana kedaannya?"

"Cukup membaik daripada kemarin, tadi suster baru saja mengganti infusnya, tapi sekarang dia lagi tidur"

"Syukurlah, lalu kapan dia bisa keluar dari sini?"

"Dokter bilang dia sudah boleh pulang dalam tiga hari lagi, tapi tetap harus cek keadaanya secara berkala sekali seminggu"

"Semoga tidak ada halangan ya"

"Semoga"

"Apa menurutmu dia masih marah kepadaku?

"Maksudmu?

"Iya, mengenai Lisa"

"Jangan tanya padaku, aku tidak tau mengenai hal itu."

"Baiklah"

"Oh iya, aku membawakan sedikit cemilan dan buah. untuk kamu dan dia"

"Terima kasih"

Menuju Pintu (Bagian 2)

       "Saya temannya, Pak."

Ucap pemuda itu kepadaku, aku baru melihatnya siang ini. tapi ada sebuah keraguan didalam kepala. bagaimana mungkin dia bisa bertaman baik dengan Lisa? seorang gadis berjilbab manis yang tinggal disamping rumahku. kalau aku lihat dari perwakannya pemuda ini tak seperti kebanyakan pemuda sekarang, mengapa tidak? baju flanel, celana longgar, rambut sepungggung terikat. jadi teringat masa muda dulu pas lagi suka-sukanya dengan musik-musiknya Nirvana.

         "Begitulah kira-kira, Pak"

Tuturnya setelah menjelasakan maksud dan tujuannya pemuda ini kepada ku, ya dari cara bicaranya dia terkesan sopan dan ramah, aku tau penampilan tak selalu bisa menjadi patokan dalam menilai, sama dengan halnya aku dulu semasa muda, gairah remaja yang liar, semangat mencari tau serta kebebasan dalam melakukan apa pun.yap! dulu aku seperti itu, namun aku salut kepada pemuda ini, dia berbeda dari pemuda sekarang, dia tidak mau mengikuti gaya kebanyakan orang atau istilah sekarangnya Follower, apa yang sedang trend semua diikuti mulai dari atas hingga bawah, jarang mau mengeksplor diri lebih jauh, hanya mau menerima yang ada tanpa mau menemukan hal baru. sayang saja aku sekarang sudah berkeluarga, kalu tidak mungkin setiap saat aku mendengarkan lagu Grunge dan Rock N Roll. Anak ku baru satu, seorang perempuan bernama Lindung Cahaya Wulan, pagi seusai shalat Subuh aku selalu mendengarkan lagu Classic sebari itu isitri ku Lia mengaji dengan merdunya. iya aku selalu senang saat istriku tercinta mengaji begitu. 

        "Saya permisi dulu, Pak"

        "Mari Silahkan, kapan-kapan mungkin kita bisa ngobrol soal musik, atau filsafat"

***

     

Selasa, 24 Desember 2013

Percakapan Sore Menuju Senja bagian 1

“hey, lama tak jumpa”
“iya ,tak sadar, 5 tahun setelah semua  berlalu”
“hehehe, iya maafkan aku, aku harus mengantarkan beberapa pesanan”
“kau bisa berhenti tertawa seperti itu?”
“seperti biasa, kamu masih tak suka dengan tawaku, apa kabar mu ?”
“apa kau tak melihat aku? “
“oke, sekarang aku melihat mu, dan memang cukup berubah, kamu tambah tinggi dan,… ah,.. sudah lah”
“hanya terheran saja? “
“apa yang kau herankan ? kita sudah sudah kenal lama bukan?, jangan menatap ku kaku begitu lah Ran”
“sudah, ayo jalan, tetap saja masih tak berubah”
“aku tak punya alasan lagi untuk berubah, haha, tak ada lagi yang  mengomeli aku jika aku makan mie”
“sudah – suadah, kau fokus saja pada jalan ini”
“ oke, jika itu yang memang kau mau” *menghentikan motor*
“apa maksud mu? Tujuan kita bukan di sini bukan?”
“kita sudah sampai, kau ingat tempat ini?”
“iya, bahkan rasanya seperti kemarin”
“waktu itu, aku tak sengaja, maaf sekali”
“hehe, kau buat aku putus dengan Bayu”
“hanya tak bias membayangkan, jika kau tetap dengan dia Ran”
“sudah-sudah,kau kemari ingin membuat aku mati lagi? Cukup lelah rasanya jika mengingat potongan cerita itu San”
“oke maafkan aku, ku kira kau sudah tak terlalu menganggap ada cerita itu :)”
“kau tau kenapa aku suka berada disini?
“jika ku hanya memperhatikan mu mungkin karna *melihat jam* sudah jam  16.23, aku tidak salah kan?”
“haha, kau benar-benar mengerikan ya San, jalan puang – percakapan tangis, aku hanya tak tau mengapa cafe ini selalu saja memutar lagu ini selalu tepat , mereka tak banyak merubah disain, bahkan wallpaper di sana masih tetap sama, dan jam besar itu masih menggantung  diantara rak kopi”
“iya, namun kau melupakan sesuatu”
“apa itu?”
*mengeluarkan sesuatu dari saku celana kanan* “apa kamu masih inggat, janjiku Ran?”

***